Pramoedya Ananta Toer Dunia Ketiga Dunia Ketiga adalah belahan umat manusia yang setelah Perang Dunia II bersama dengan negerinya terbebas dari penjajahan Barat. Dengan Barat dimaksudkan juga Jepun. Penjajahan Barat diawali oleh pemburuan akan rempah-rempah Nusantara, terutama Maluku, dikembangkan melalui pengacak-acakan (kacau-bilau) seluruh dunia non-Barat, untuk dapat membawa segala yang berharga ke dunia Barat. Yang teracak-acak bukan saja mengalami perkosaan pelembagaan budaya, Iebih dari itu adalah pemiskinan yang sistematis. Pada pihak Iain Barat semakin membengkak dengan kemajuan, kekuasaan, keilmuan dan teknologi dengan bangsa-bangsa jajahan sebagai Iandasan percobaan. Doktrin-doktrin yang membenarkan penjajahan dilahirkan di Barat yang semua merugikan pihak bangsa-bangsa yang dijajah. Kita menyaksikan Iahir dan berkembangnya imperium (empayar) dunia: Portugis dan Spanyol yang dibangun di atas perampasan emas dan perak, Inggeris yang dibangun di atas monopoli tekstil dan candu serta perbudakan (perhambaan), dan Belanda yang dibangun di atas monopoli rempah-rempah. Sebahagian terbesar umat manusia telah dijajah oleh Barat, yang dalam jumlah nisbah jauh lebih kecil, namun bagaimanapun pokok utama yang menyebabkan nasib buruk bangsa-bangsa jajahan itu adalah ketidakmampuan budaya menghadapi ekspansi kegiatan dagang Barat. Dalam hal ini, dikecualikan Portugis dan Spanyol. Tapi pada keseluruhannya, terjadi sebagaimana dikatakan oleh Chiang Kai-shek, bahwa: tidak ada sesuatu bangsa bisa dijajah oleh bangsa Iain tanpa bantuan bangsa itu sendiri. Produk (Kesan) penjajahan atas Dunia Keti secara budaya adalah: mentalitas bangsa jajahan yang belum tentu dapat hilang setelah tiga generasi bangsa itu hidup dalam alam kemerdekaan politik, kerana mentalitas bangsa yang dikalahkan berabad akan melahirkan kebudayaan bangsa kalah demi survivalnya sebagai bangsa kalah. Tragedi pada Dunia Ketiga dengan kemerdekaan nasionalnya masing-masing terletak pada tidak atau kurang disedarinya kenyataan bahwa mereka masih hidup dan bernafas dengan kebudayaan bangsa kalah, dan mentalitasnya. Produk jajahan atas Dunia Ketiga secara budaya pada pihak penjajah adalah: Demokrasi Parlementer, Hak-hak Asasi, yang dua-duanya memberi jaminan pada setiap individu untuk tumbuh menjadi kuat untuk dan atas namanya sendiri. Sedang pengalaman penjajahan berabad membentuk mentalitas sebagai bangsa unggul dan penakluk, yang juga tidak mudah hapus dalam tiga generasi, setelah bangsa-bangsa itu kehilangan jajahannya. Apabila Dunia Ketiga dalam upayanya mengembalikan harga diri banyak berlindung pada apa yang mereka namai kebudayaan asli dan banyak kala tidak mengindahkan sumber sosial historisnya, malah tidak jarang menjualnya untuk pariwisata (pelancungan),dan bukan tanpa kebanggaan nasional kebudayaan asli yang terbukti secara sistem dan organisasi telah dikalahkan berabad. Pada Dunia Barat dengan mentalitasnya sebagai bangsa unggul dan penakluk sampai dengan tahun delapan puluhan abad ini masih juga memproduksikan pandangannya yang menganggap Dunia Ketiga sebagai keanehan hanya kerana tidak sama dengan dirinya, hanya kerana perbedaan standar (taraf) yang sulit mereka sedari, dan kerana standar satu-satunya yang mereka kenal adalah miliknya. Contoh terakhir misalnya buku C.J .Koch The Year of Living Dangerously (terbitan Sphere Books United, London, 1981). Malah suatu gejala biasa bila Barzat tidak mau mengerti bahwa semua keterbelakangan (kemunduran) di Dunia Ketiga tidak Iain daripada ulah (tindakan) dunia Barat itu sendiri. Penjajahan atas dunia non-Barat diawali oleh perlumbaan mendapatkan rempah-rempah Nusantara, terutama Maluku. Entah kerana kebetulan, entah kerana rancangan sejarah, secara teori, Nusantara pula yang mengawali putusnya penjajahan internasional sebagai tempat di mana mata rantai imperialisme dunia paling Iemah dengan Iahirnya Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Beberapa hari setelah itu menyusul Vietnam. Sekali mata rantai putus, kejatuhan mata rantai-mata rantai yang lain. Dari Indonesia ke daratan Asia merambat ke Africa, kemudian ke benua Amerika Latin. Semua itu terjadi kerana faktor keberhasilan dari Indonesia dan Vietnam sebagai percubaan sejarah. Imperium Inggeris, yang kepayahan keluar dari Perang Dunia II dan mendapat pengalaman yang tidak menyenangkan di Indonesia, melepaskan dadanya dengan jalan damai untuk tidak menjadi payah Iagi. Sebaliknya Indonesia, yang kerana rempah-rempahnya membikin sebahagian terbesar umat manusia dijajah Barat, menyedari tugas sejarahnya dengan mengadakan Afro-Asian Conference di Bandung pada April 1955. Soekarno, seorang yang bukan saja menguasal, bahkan memahami sejarah bangsanya, bukan sekadar tahu tentang materi (isi) dan metode keilmuan sejarah, malah memahami filsafat sejarah dengan pidato anti-imperialismenya Let A New Asia and Africa Be Born telah mengangkatnya menjadi Bapak Dunia Ketiga. Orang suka atau tidak suka, mengakui atau tidak. Dengan Afro-Asian Conference, kekuasaan dan imbangan dunia berubah, bergerak kerana Iahirnya Dunia Ketiga. Menyebut Dunia Ketiga bererti juga menghadapi dunia Barat dengan sejarah penjajahannya sebagai guru musuh atau sahabat. Menyebut Dunia Ketiga tanpa konteks tersebut, adalah menempatkan sebahagian terbesar umat manusia dengan negerinya sebagai persoalan fiktif. Dunia Ketiga tak lain dari anak tak sah imperialisme Barat. Bapak tidak sah dan anak tidak sah, yang dalam pergaulan internasional tidak bisa berpisahan satu sama Iain mempunyai posisi internasional yang berbeza, pertempuhan dan paran (destinasi) yang berbeza pula dalam jangka waktu tertentu yang dibutuhkan (diperlukan) oleh Dunia Ketiga dalam mendapatkan bentuknya masing-masing. Dan dalam jangka waktu tertentu itu, sekarang kita hidup, maka kerana itu juga dapat menyaksikan sendiri sikap Dunia Ketiga terhadap Barat dan sikap Barat terhadap Dunia Ketiga. Sikap dunia Barat dapat kita ikuti dari penerbitan-penerbitannya tentang Dunia Ketiga, dengan catatan, bahwa sikap itu belum sikap umum Barat, baru sikap satu golongan yang merasa maju, dan mencuba membébérkan kekurangan-kekurangan Dunia Ketiga kerana belum sampai pada standar yang dimiliki Barat, dan nota bene (perhatikan) tidak Iain dari warisan penjajahan Barat sendiri, di samping memperkenalkan produk Dunia Ketiga yang patut diperkenalkan kepada Barat sebagai bukti produktifnya pengaruh Barat. Belakangan ini muncul rumusan baru tentang Utara-Selatan untuk tidak menyebutkan kata-kata menyakitkan: kaya-miskin. Sebelum yang terakhir ini, Dunia Ketiga diberi nama manis: negeri/negara yang sedang berkembang (membangun). Semua itu untuk menghindari persoalan nurani antara bekas jajahan dan bekas penjajah. Nama-nama yang Ientur (Iunak) dan dilenturkan ini tak Iain dari suatu persetujuan tak terucapkan bahwa Dunia Ketiga berterima kasih pada bantuan yang menguntungkan dari Barat, sebaliknya Barat dengan bantuannya pada Dunia Ketiga mendapat keuntungan Iebih besar Iagi. Di sini kita sekarang berada. Kaum Intelektual Apa yang dimaksudkan dengan kaum intelektual bagi saya kurang jelas apakah menurut pengertian kamus ataukah menurut pendapat bebas dari setiap orang yang mempunyai kepentingan dengan kata tersebut. Apakah sarjana termasuk intelektual? Apakah setiap orang di antara kita intelektual atau tidak? Apakah kata intelektual itu satu atribut (sifat) dari sebahagian kecil nasion yang merasa diri berpikir Iebih daripada bagian selebihnya? Kata Sahibul Hikayat yang dimaksudkan dengan kaum intelektual adalah kaum yang menempatkan nalar (pertimbangan akal) sebagai kemampuan pertama yang diutamakan, yang melihat tujuan akhir upaya manusia dalam memahami kebenarannya dengan penalarannya. Stop, Sampai di situ. Pada akhir Perang Dunia II, ada yang menggugat: bila sampai di situ saja faal (perbuatan) kaum intelektual ertinya penalarannya belum sampai pada suatu tanggungjawab terhadap diri sendiri dan lingkungannya, terutama pada umat manusia. Kemudian orang menamai kaum intelektual hanya sebagai sport, tanpa keterlibatan diri dengan penalarannya sendiri sebagai: intelektual blanko (kosong). Sehubungan dengan topik yang dikemukakan oleh Senat Mahasiswa FISUI jelas bukan intelektual blanko yang dimaksudkannya, tetapi yang merupakan bagian integral dengan nasionnya sendiri, bagian bernalar nasionnya yang bukan hanya mendapatkan input dari nasionnya juga memberikan output padanya. Tetapi dalam kehidupan Dunia Ketiga pada umumnya dan di Indonesia khususnya, di mana semua mulai diawali, dibangun dan dikembangkan seirama dengan keperluan nasional faal kaum intelektual bukan sekedar mesin yang menari antara in- dan out-put. Pada mereka dituntut kejelian (keelokan) kepiawaiannya untuk dapat melihat peran dari perkembangan nasional, yang bererti juga kemampuan untuk melihat hari depan. Dan hari depan hanya dapat digalang dengan perhitungan dan amal hari ini. Penalarannya menggunakan reflektor yang tertuju ke depan, bukan tertuju ke belakang sebagai mana dalam kebudayaan purba, kebudayaan animis, dinamis dan pemujaan leluhur, kebudayaan kuburan. Sebaliknya, kaum intelektual bukan sekedar bagian dari nasionnya. Iapun nurani nasionnya, kerana bukan saja dalam dirinya terdapat gudang ilmu dan pengetahuan, terutama pengalaman nasionnya, juga ia dengan isi gudangnya dapat memilih yang baik dan yang terbaik untuk dikembangkan, memiliki dasar dan alasan paling kuat untuk menjadi resolut (tegas) dalam memutuskannya atau tidak. Hinduisme telah membagi masyarakat dalam kasta-kasta, yang relevansinya masih terasa. Kaum intelektual berada dalam kasta Brahmin. Hanya bezanya kaum Brahmin moden menempati kedudukan sebagai jambatan pada hari depan. Saya cenderung menempatkan kaum intelektual Indonesia dan Dunia Ketiga dalam pengertian ini. Sikap dan Peran Bicara tentang sikap adalah bicara tentang tempat berdiri, bicara tentang tempat berdiri adalah juga bicara tentang jarak yang telah ditempuh. Tempat berdiri pada giliranya hanyalahbagian dan medan yang tak terbatas. Dari tempat berdiri orang menghadapi jarak yang masih harus ditempuh. Sikap adalah faktor dalam yang akan menentukan bagaimana jarak di depan akan ditempuh. Akan dalam kamus politik diucapkan : bagaimana sebaiknya, kerana itu soal operasional. Berdasarkan materi (bahan) yang telah dikedepankan, sikap yang sepatutnya diambil : a) meninggalkan sama sekali budaya kuburan dan mengambil penalaran sebagai satu-satunya jalan membina hari depan, dan dengan demikian secara aktif membangun budaya nasional yang moden. b) tetap kritis terhadap potensi pengaruh buday suku yang kalah dan mengajak kalah. c) berlatih berani untuk mendapatkan keberanian intelektual kerana tanpa keberanian intelektual, kaum sudah lumpuh sebelum memutuskaben. Sejalan dengan lahirnya bangsa Indonesia hanya kerana keberanian revolusioner, maka tradisi keberanian revolusioner juga merupakan unsur menentukan dalam kehidupan kaum intelektual Indonesia. d) sebagai intelektual Indonesia, tempatnya adalah pertama-tama sebagai manusia Indonesia, sebagaimana budaya Indonesia. Manusia budaya Indonesia berada dalam jajaran Dunia Ketiga, sedang Dunia Ketiga ada kerana diperhadapkan dengan Barat. Kaum intelektual Indonesia yang terIepas dari hubungan dengan Dunia Ketiga dan terlepas dari perhadapannya dengan Barat sebagai produk sejarah akan kehilangan sebagian dari kemampuan penalarannya yang objektif, kerana mereka tanpa sedarnya akan terlepas dari ikatan sejarah, ikatan pengalamannya sendiri. e) Barat menjadi bongkak kuasa, bongkak kemajuan dan bongkak kemakmuran sehingga menjadi seperti sekarang ini dengan produk terbaiknya dalam bentuk demokrasi parlimenter dan hak asasi adalah atas biaya seluruh Dunia Ketiga, termasuk Indonesia. Maka dari pengalaman sejarah ini, kita punya hak menuntut dari Barat pertanggung jawaban moral dengan konsekuensinya yang wajar dan manusiawi. Kaum intelektual Indonesia kerananya diajak pertanggungan jawaban historis. Atas dasar ini, Barat sudah sepatutnya melepaskan pandangan menara-gadingnya yang menganggap haknya bahwa Dunia Ketiga harus menjadi pengikutnya. Sebaiknya Barat merobohkan menara-gadingnya dan menggantinya dengan pengertian yang lebih manusiawi dalam membantu Dunia Ketiga untuk menjadi dirinya sendiri. Dengan robohnya menara gading itu pula, bisa diharapkan Barat melepaskan pandangan. Baratnya dan standar Baratnya dalam menilai Dunia Ketiga dengan perkembangannya. f) Kaum intelektual Indonesia dalam berlatih memperkuat keberanian intelektual dan keberanian moral juga dituntut untuk selalu membikin perhitungan dengan masa lalunya sebagai bangsa, belajar untuk menghadapi Barat bukan sebagai superior, tetapi sebagai lembaga yang dalam beberapa abad belakangan ini menerima piutang paksa dari Dunia Ketiga. Kaum intelektual Indonesia, sebagai manusia budaya Indonesia sudah sepatutnya mempunyai keberanian intelektual dan keberanian moral terhadap Barat untuk menuntut dari Barat segala yang terbaik dan berguna, teknologi dan sains, bukan sebagai hadiah kemanusiaan seperti halnya dengan Van Deventer dengan politik etiknya, tetapi semata-mata kerana dengan kebudayaan purbanya, dengan budaya sukunya yang kalah dan dikalahkan, dengan budaya Indonesia yang baru seumur jagung, terutama juga dengan budaya Barat. Praktiknya, terus-menerus yang menjamin Iahirnya kedibyaan (genialitas) sehingga keintelektualan bukan tinggal jadi atribut sosial, tapi faaliah, fungsional, dan membikínnya patut jadi penalaran dan nurani nasion. g) Akibat dari sikap yang diambil terhadap Barat membikin kaum intelektual Indonesia tidak bisa lain pada menata kembali dan mengorganisasi secara sedar perasaan pikirannya dalam membangun lebih lanjut budaya Indonesia dalam segala aspeknya justru di sini peran yang menentukan kaum intelektual Indonesia. h) Kekuatan peradaban barat yang mampu berkembang dan bertahan berabad dalam sejarah umat manusia sudah sepatutnya dipelajari secara kritis. Pemberiannya pada umat manusia tak terhingga banyaknya. Sebaliknya kerasakan yang diakibatkannya pada Dunia Ketiga juga tak terhingga banyaknya. Kita tahu bahwa kekuatannya terletak pada kekuatannya individu Barat, sedang pada gilirannya individu Barat diasuh oleh demekrasinya dan diayomi (dibantu) oleh hak-hak asasinya, yaitu individu yang oleh Chairil Anwar dinyanyikannya sebagai aku... yang dari kumpulannya terbuang, kerana menolak pembebekan (sifat mengekor). Dari pelajaran Barat, Indonesia juga bisa kuat dengan individu manusia Indonesia yang kuat, sehingga dalam konteks pembicaraan kita menjadilah aku... yang dengan kumpulannya berpadu, yang untuk itu telah disediakan pegangan dan medan oleh Pancasila. i) Terhadap Dunia Ketiga sebagai jajaran sendiri, sebagai seperasaian (mempunyai nasib sama) dalam sejarah, sebagai rakan seiring dalam memecahkan masalah-masalah yang diwariskan oleh kesamaan historis, menanggalkan sikap tak acuhan yang terkunci, sedang pandangan bahwa diri lebih maju dari yang lain adalah suatu kemewahan. Kesepakatan antara Dunia Ketiga akan mempercepatkan lahirnya kesatuan bahasa. Pengalaman berabad dalam praktik devide et impera (pecah dan perintah) Barat bukan tidak menjadi watak peradaban dalam menghadapi dunia non-Barat. Kerana itu semangat Dunia Ketiga, atau yang pernah juga disebut semangat Asia-Afrika, kemudian menjadi semangat Asia-Afrika-Amerika Latin, bukan semestinya menjadi semakin pudar untuk kerugian Dunia Ketiga. Sukarno telah melampaui masanya waktu ia - bukan sekedar gagasan mencuba mewujudkan Ganefo dan Conefo, tetapi dalam situasi dunia sekarang ini dengan masalah Timur-Barat, Utara-Selatan, Dunia Ketiga-dunia selebihnya yang semakin akut dengan semakin mengecilnya dunia kita, keseiaan Dunia Ketiga jelas merupakan kebutuhan. Sekalipun, ya, sekalipun, perkembangan Dunia Ketiga dalam dasawarsa terakhir memerlukan batasan dan rumusan baru. j) Peran kaum intelektual Indonesia sudah jelas. Gagasan perjuangan untuk melahirkan bangsa Indonesia diawali oleh mereka dengan kesadaran akan komitmennya dengan bangsanya, dengan kejelian dan kopiawaiannya tentang perang bangsanya. Gagasan dan praktik terus-menerus melahirkan Indonesia merdeka. Dengan praktik intelektual keintelektualan menjadi kuat, dengan praktik otot (tenaga), otot menjadi kuat. Seindah-indah gagasan yang tidak dicuba-wujudkan oleh otot dan dengan otot akan berubah menjadi roh-roh yang gentayangan (berkeliaran) - roh jahat yang menjadikan orang jadi munafik. k) Kaum intelektual, sebagai nalar dan nurani nasion, adalah berkasta Brahmin dalam pengertian moden. Dan moden selalu senyawa dengan demokratis, dengan, demikian kehilangan kedudukannya dari hierarki Hindu. Faal bernolar, berpikir dengan inteleknya secara alami, tidak beza dari fungsi-fungsi kasta Iain dalam masyarakatnya, yakni melakukan proses bio-kimia. Tetapi proses biokimia yang tahu paran. Untuk bisa tahu tentang paran sebelumnya, orang dituntut tahu tersangkarnya, tentang asalnya, tentang historisnya. ______ * Ini adalah petikan dari teks ceramah Bapak Pram di Universitas Indonesia (Jakarta) atas undangan Senat Mahasiswa UI. Setelah ceramah ini disampaikan, beberapa pemimpin mahasiswa telah ditahan selama beberapa hari. |
Monday, January 24, 2011
Sikap dan Peran Kaum Intelektual di Dunia Ketiga
Ramalan: Perang Dunia Ketiga November 2010
Vangelia Gushterova, peramal yang disetarakan dgn Nostradamus. Dia asal Bulgaria meninggal 1996. Meramalkan PD III meletus pada Nov 2010Boleh percaya boleh tidak tapi ramalan ini sunggung mengerikan. Seorang peramal asal Bulgaria, yang disetarakan dengan Nostradamus atau peramal terkenal Valdes, mengatakan, perang dunia ke 3 akan meletus pada November 2010. Diawali dengan perang antara Negara tetangga yang berkembang menjadi besar dan melibatkan banyak Negara, serta terjadi perang nuklir dan senjata kimia. Peran ini akan berlangsung empat tahun, hingga 2014. Akibatnya sungguh mengerikan, perang ini menghancurkan hampir semua kehidupan di belahan bumi Utara, khususnya Eropa yang penduduknya nyaris musnah. Benua eropa diramalkan hanya didiami hanya sedikit orang karena banyak yang musnah karena perang.
Perang Dunia kali ini tidak seperti perang dunia I dan II, kali ini kecanggihan teknologi
persenjataan, nuklir, kimia, dll, ikut berperan menghancurkan semua, bukan hanya pasukan yang terlibat perang tapi juga masyarakat yang tak berdosa. Setelah perang, hampir sebagian besar penduduk dunia akan mengalami penyakit kanker kulit dan penyakit kulit lainnya akibat senjata kimia dan nuklir.
Lebih jauh tentang ramalan itu ikuti ulasan ini. Tidak banyak orang percaya pada ramalan namun kepercayaan itu biasanya baru akan muncul ketika apa yang diramalkan mulai menunjukkan kebenaran atau menjadi kenyataan. Seperti halnya Vanga yang memiliki nama asli Vangelia Gushterova, seorang peramal asal Bulgaria. Pada awal kemunculannya, tak banyak orang percaya prediksinya tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi pada masa depan. Namun seiring waktu ketika prediksinya itu mulai menjadi kenyataan, orang pun mulai berpaling padanya. Mulai mengingat-ingat apa yg pernah dikatakannya dulu. Banyak ramalan-ramalan Vanga tentang peristiwa-peristiwa besar yang mengguncang dunia, pada akhirnya menjadi kenyataan.
Vanga telah meninggal sejak 1996. Namun ramalan-ramalannya tentang masa depan dunia kini dicermati semua orang. Setelah sejumlah ramalan terdahulu menjadi kenyataan. Sebut saja, prediksinya tentang serangan teroris pada Amerika pada 9 September 2001 atau dikenal dgn 9/11. Ketika itu dia mengatakan Amerika akan ‘jatuh’ oleh serangan burung baja. Dan itu menjadi kenyataan di mana pusat kebanggan Amerika, World Trade Center, ditabrak oleh pesawat yg dibajak teroris. Dia juga pernah meramalkan tentang meletusnya Perang Dunia ke-II, juga tentang perestroika yang menjadikan ‘ wajah’ Rusia berbeda, serta kematian Putri Diana. Atau tenggelamnya kapal selam Kursk di Laut Barents yang berhubungan dengan konflik bersenjata di South Ossetia. Ramalan tentang tenggelamnya kapal selam nuklir kebanggaan Rusia, Kursk, ini diungkapkannya pada 1980. Ia mengatakan,” pada pada agustus antara tahun 1999 atau 2000, Kursk akan diliputi air dan dunia akan menangisinya”. Ternyata terbukti, tahun 2000 kapal selam nuklir itu tenggelam.
PERANG DUNIA KE-III
Kapal selam nuklir kebanggaan Rusia, Kursk, tenggelam tahun 2000 di Laut Barents. Vanga meramal tenggelamnya Kursk pada 1980
Namun yang menggegerkan Vanga meramalkan tentang meletusnya Perang Dunia ke-3 tahun 2010. Berdasarkan terawangnya, Perang Dunia ke-3 itu terjadi karena konflik akibat percobaan pembunuhan terhadap kepala Negara, yakni Ukraina, Estopnia, Lituania dan Polandia yang bagian ke Georgia. Perang Dunia meletus setelah konflik yang terjadi di Hindustan (India).
Awalnya, perang tersebut hanya perang local antar Negara tetangga yang dimulai pada November 2010. Lalu perang itu merembet melibatkan banyak Negara, terjadi perang nuklir dan senjata kimia. Perang Dunia ke III ini akan selesai menjelang Oktober 2014.
Berikut ini cuplikan ramalannya yang mengerikan:

2011: akibat perang, hujan radioaktif akan menghancurkan hampir semua kehidupan di belahan bumi Utara. Kebanyakan orang-orang Eropa akan musnah dan menghadapi ancaman dari Muslim yang akan mempergunakan senjata kimia untuk menghabisi mereka. 2014: Akibat mengerikan diterima penduduk dunia akibat serangan senjata kimia dan nuklir selama perang. Di mana sebagian besar penduduk dunia akan menderita kanker kulit dan penyakit kulit lainnya. 2016: Penduduk Eropa hingga sedikit, nyaris benua itu tidak didiami. 2018: Cina akan tampil sebagai Negara superpower baru, yang memiliki kekuasaan besar di dunia. Yang tadinya eksploiters akan menjadi yang diekploitasi. 2023: Orbit tanah akan berganti 2025: Penduduk eropa masih sangat jarang.
Akhir dari Perang Dunia Ke II 1940
Vanga lahir 1911 dengan nama Vangelia Pandeva Dimitrova, setelah menikah namanya menjadi Vangelia Gushterova. Ia berasal dari Bulgaria dan buta sejak usia 12 tahun. Vanga banyak menghabiskan hidupnya di area Rupite di Kozhuh Mountains, Bulgaria. Ia diduga buta huruf dan tidak menulis apapun ramalannya. Ramalan-ramalannya hanya diucapkan dan orang merekamnya. Kadang ada kesulitan, karena ucapannya kadang bercampur dialeg Bulgaria yang sulit dimengerti.
Ia mengatakan, kemampuannya melihat masa depan karena bantuan makhluk gaib yang mendampinginya dan membisikkan padanya tentang apa yang akan terjadi. Tapi Vanga tidak bisa menjelaskan dari mana makhluk gaib itu berasal. Makluk gaib itulah yang memberinya informasi tentang orang atau apapun yang akan terjadi atau telah terjadi.
Kini ramalan-ramalan Vanga menjadi objek penelitian Institut Bulgaria. Sebanyak 7000 ramalannya kini tengah diteliti. Dari penelitian tersebut, dikatakan bahwa 80 persen dari ramalannya akurat. Sesaat sebelum kematiannya, Vanga , meramalkan, bumi akan dilanda keresahan dan ketidak seimbangan, serta sejumlah makluk luar angka (alien) yang sebenarnya telah bertahun-tahun hidup di bumi.
*Menurut saya sebenarnya kalau kita pikir2 ramalan2 tersebut sangat mungkin terjadi. Terlebih banyak isu-isu yang mengatakan akan ada perang dunia ketiga (john titor, nostradamus, bahkan mama lorent). Semua kembali kepada kita masing-masing, apakah kita mau berubah sikap dari sekarang?
Sunday, January 23, 2011
Friday, January 21, 2011
PERKEMBANGAN TIMOR-LESTE
RIEN Kuntari, wartawan Kompas, adalah salah seorang Indonesia yang mempunyai akses sangat luas di Timor Leste. Ia adalah satu-satunya wartawan Indonesia yang bisa tidur di kemah Taur Matanruak, kini Panglima FDTL/ETDF (Angkatan Beladiri Timor Leste), ketika mewawancarainya di saat-saat terakhir yang amat kritis menjelang Referendum 1999.
Untuk mewawancara Taur Matanruak, Rien harus berjalan kaki puluhan kilometer di hutan, yang menjadi pangkalan gerilya Fretilin di pegunungan yang menghadap ke Lautan Pasifik Selatan. Demikian dekat Rien dengan sejumlah petinggi di Timor Leste sekarang ini, sehingga menurut seorang kepercayaan Xanana, Presiden Timor Leste itu menyebut Rien dengan ”orang kita.”
Maka, hari Minggu 28 April lalu saya setengah terkejut ketika membaca laporan Rien yang begitu trenyuh, bernada kepedihan, ketika Rien berkisah tentang Timor Leste yang baru saja dikunjunginya untuk meliput pemilihan presiden. Tetapi Rien benar bahwa ia tidak sendirian. Boleh dibilang semua orang Indonesia yang mengunjungi Timor Leste kini, pernah terserang sindrom seperti itu. Perpisahan, kapan pun, di mana pun, dan karena sebab apa pun, selalu pedih. Apalagi kalau perpisahan itu sempat diwarnai hati yang terluka di antara kedua pihak.
Namun sebetulnya, Rien juga pasti mengetahui, perpisahan itu adalah jalan terbaik bukan hanya untuk Timor Leste, tetapi juga bagi Indonesia. Tanpa persoalan Timor Leste, kini diplomasi luar negeri Indonesia menjadi sangat leluasa dan tanpa beban dalam merebut kembali citra Indonesia sebagai salah satu pemimpin besar, baik di kawasan ini maupun secara global. Rencana kunjungan Presiden Megawati ke Dili dalam rangka perayaan kemerdekaan Timor Leste 20 Mei besuk—rencana yang menjadi salah satu topik paling hangat di Dili—akan menjadi tonggak yang luar biasa dalam membangun citra baru tersebut.
Apalagi jika kelak Indonesia bisa dengan elegan keluar dari stigma Timor Leste yang selama ini cukup menghambat pemulihan hubungan yang pernah sangat indah dengan Australia. Megawati mempunyai peluang sangat bersejarah dalam upaya pemulihan ini, sehingga dua bangsa besar, Indonesia dan Australia, dapat kembali bersama-sama menjadi pilar penyangga perdamaian di Pasifik Selatan, salah satu kawasan terdamai di dunia saat ini.
”Winning game”
Peluang kita untuk mengubah Timor Leste dari losing game menjadi winning game, juga secara nyata bisa diperoleh di dunia bisnis. Ambil contoh apa yang terjadi hampir dua tahun terakhir ini. Sebelum Referendum 1999, setiap tahun APBN harus mengalokasikan ekivalen sekitar Rp 1 trilyun untuk pembangunan Timor Leste. Belum lagi dana nonbudgeter yang dikendalikan langsung militer, serta nyawa-nyawa yang boleh dibilang setiap pekan berguguran di sana.
Lalu, apa yang terjadi kini? Ambil contoh penerbangan Merpati. Sejak akhir tahun 1999, Merpati yang kini menerbangi Denpasar-Dili tujuh kali seminggu sebagai salah satu jalur tergemuk, sedikitnya telah mengantungi sekitar 50 juta dollar AS (Rp 470 milyar) dari jasa angkutan orang dan barang. Belum lagi pariwisata di Bali yang menikmati tamu dari Dili setiap akhir pekan.
Pertamina juga pesta dollar. Dulu, Pertamina harus menjual premium dan lain-lain di Dili dengan harga subsidi seperti di Jakarta. Kini Pertamina menjualnya di Dili dengan harga 2-3 kali lipat. Jika konsumsi rata-rata BBM di Timor Leste adalah 20.000 - 30.000 ton per bulan, kita tinggal hitung saja berapa keuntungan Pertamina sejak akhir tahun 1999 hingga sekarang.
Telkom dulu harus mensubsidi operasinya. Kini, Telkom ongkang-ongkang kaki tinggal menerima hasil sewa operasi peralatannya oleh Telstra, telkomnya Australia yang kini berkiprah di Timor Leste. Industri dan perdagangan di Surabaya pun menikmati rezeki lumayan, karena walaupun sudah mulai mendapat saingan dari Thailand dan Cina, praktis hampir semua kebutuhan sembako, elektronik, bangunan, bahan baku industri, kertas, dan alat tulis masih didatangkan dari Surabaya.
Kalau saja tidak ada penempatan kekuatan militer yang begitu mencolok di perbatasan Timor Leste dan Timor Barat, arus barang dari Surabaya ke Dili itu pasti akan jauh lebih cepat dan jauh lebih besar. Selama perbatasan ditutup, arus barang dari Surabaya harus menempuh perjalanan laut dua-tiga minggu untuk sampai ke Dili, padahal jika melalui jalan darat dan feri hanya empat-lima hari.
Arus barang ini juga bisa memberikan trickle down effect yang besar bagi masyarakat sepanjang rute darat Surabaya-Dili itu ketika melewati NTT. Kehadiran militer dengan skala besar di perbatasan Timor Leste dan Timor Barat juga menghilangkan kesempatan tumbuhnya ekonomi rakyat setempat. Harga komoditas pertanian di Timor Barat (orang Timor Leste menyebutnya dengan Timor Loromanu), rata-rata hanya sekitar 30-50 persen dari Timor Leste yang berekonomi dollar (kecuali beras yang belakangan ini dibanjiri Vietnam). Andaikata terjadi transaksi bebas di perbatasan, betapa untungnya masyarakat Timor Barat.
Begitu besar potensi perdagangan di perbatasan ini sehingga ekonom Faisal Basri ketika bertemu dengan mitranya, sejumlah ekonom muda Timor Leste, Joao Saldanha dan kawan-kawan dari East Timor Study Group di Dili tahun lalu, pernah secara panjang lebar dan antusias mendiskusikan kemungkinan membentuk semacam free economic zone di perbatasan Timor Leste dan Timor Barat. Gagasan ini kemudian ditangkap oleh Pemda NTT meskipun hingga kini tetap tinggal sebatas wacana.
Timor Leste juga membutuhkan ribuan guru, perawat, dan dokter bahkan teknisi dengan gaji sedikitnya Rp 3-5 juta per bulan di luar dokter. Timor Leste dengan penduduk satu juta orang memang bukan pasar berskala besar. Tetapi sebagai negara baru, Timor Leste mendapat kemudahan ekspor dengan bebas bea masuk ke Amerika Serikat untuk 49 jenis hasil industri dan komoditas pertanian jika berlabel made in Timor Leste. Belum lagi akses pasar sejenis ke Uni Eropa, baik secara langsung, maupun secara tidak langsung melalui Portugal.
Sehubungan dengan peluang ini, Penasihat Kadin Timor Leste (ASSET) Manuel Carascalao yang beristrikan wanita Makassar, serta Ketua ASSET Oscar Lima berulang kali mengundang pengusaha Indonesia untuk berinvestasi di Timor Leste dengan investasi minimal 50.000 100.000 dollar AS dan kemungkinan kemudahan jalur pintas untuk mendapatkan status permanent resident (penduduk tetap). Oscar bahkan membuka pula kemungkinan industri komponen low end-nya di Kupang, sedangkan high end termasuk pengepakannya untuk ekspor dibuat di Timor Leste.
Ekonomi jasa
Timor Leste sekarang ini memang tidak lebih dari sebuah negara baru dengan persoalan kemiskinan dan berbagai persoalan lainnya yang kompleks sebagaimana yang dikisahkan Rien Kuntari. SDM-nya pun masih sangat terbatas untuk menjadi sebuah kekuatan perubahan meloncat bagi Timor Leste. Bagi cukup banyak orang Timor Leste sendiri, potret kemiskinan dan keterbelakangan ini bahkan sempat menjadi keputusasaan dan kepasrahan.
Sebagai saudara tua yang pernah seperempat abad mengangkangi Timor Leste, sebetulnya kita tidak bisa mencuci tangan dengan realitas yang dikisahkan Rien Kuntari tersebut. Kemiskinan dan buruknya mutu SDM itu adalah sisa-sisa ”peradaban buruk” yang kita bawa ke sana, termasuk soal KKN, premanisme, kekerasan, dan ketidakpatuhan pada hukum.
Namun, Timor Leste yang kini miskin, terkebelakang, dan penuh persoalan, boleh jadi adalah Timor Leste yang jauh lebih beruntung dibandingkan Indonesia tahun 1945, bahkan bisa juga dari Indonesia yang kini terperangkap dalam ketidakmenentuan arah reformasi, termasuk reformasi hukum dan politik.
Panglima FDTL Brigjen Taur Matanruak telah berulangkali secara tegas menyatakan bahwa doktrin militer Timor Leste akan selalu dan tetap tunduk pada legitimasi pemerintahan sipil. Ini membuat persoalan sangat pelik yang dihadapi Indonesia dengan ambivalensinya soal TNI serta segala dampak negatifnya pada hambatan reformasi hukum dan politik nasional, tidak akan dialami oleh Timor Leste.
FDTL juga sejak awal menegaskan tidak akan menggunakan sistem teritorial dan akan tetap mempertahankan jumlah kecil walaupun kelak ekonomi minyak akan membanjiri Timor Leste dengan dollar. Ini karena FDTL percaya bahwa polisi lebih dibutuhkan rakyat bahwa diplomasi adalah survival policy yang terbaik bagi Timor Leste, dan bahwa kemakmuran serta keadilan otomatis akan membuat rakyat loyal pada negaranya.
Dalam bidang ekonomi pun, disiplin fiskal yang selama dua tahun ini dengan ketat diberlakukan di Timor Leste—antara lain melalui tidak adanya subsidi beras dan BBM, serta bea masuk yang ketat di sebuah ekonomi yang penyelundupannya sangat minim—memang sempat menimbulkan beban ekonomi yang besar bagi rakyat, terutama dari sudut efek inflatoir-nya.
Disiplin fiskal ini tidak saja akan membuat fundamental ekonomi Timor Leste kokoh sejak dini, tetapi juga secara nyata telah memberikan penerimaan yang secara relatif cukup kuat bagi pemerintah untuk mulai membangun. Model ini juga akan sangat meminimalkan manipulasi populis oleh para politisi partai besar di Timor Leste merdeka nanti, karena sejak sangat dini kultur kesadaran pajak akan mengontrol perilaku pejabat pemerintah/birokrasi. Apalagi dengan diberlakukannya mata uang dollar AS sebagai mata uang resmi Timor Leste, maka dollarisasi moneter dan ekonominya akan menuntut Timor Leste bisa survive dengan efisiensi ekonomi yang terus semakin baik, termasuk disiplin fiskalnya.
Dalam konteks itulah, dimotori oleh sejumlah ekonom muda lulusan AS-Australia-Selandia Baru dan Indonesia, Joao Saldanha dan kawan-kawan dari East Timor Study Group di Dili yang umumnya apolitik, kini sedang terjadi perdebatan besar di Timor Leste mengenai model ekonominya ke depan, terutama dengan bakal datangnya ekonomi migas tahun 2005.
Sejak dini, East Timor Study Group sudah mewanti-wanti tentang ancaman Dutch Disease—paradoks melemahnya pertumbuhan ekonomi akibat ketergantungan yang terlalu besar pada satu jenis komoditas, misalnya minyak bumi—dan mengimbau pemerintahan Xanana - Alkatiri untuk segera menyusun sebuah blue print ekonomi Lorosae dengan ancang-ancang pascaminyak bumi tahun 2025, terutama dalam pembangunan infrastruktur dan pembangunan pendidikan, maupun mempersiapkan sebuah model ekonomi alternatif sejak awal.
Dengan asumsi bahwa cadangan migas Timor Leste akan habis dalam 20 tahun, maka jika penerimaan royalti migas Timor Leste sekitar 3 milyar dollar AS per tahun mulai tahun 2005 (sekitar Rp 3 trilyun untuk negara dengan penduduk kurang dari 1 juta orang, atau rasio fiskal Rp 3 juta per penduduk per tahun), maka selambat-lambatnya tahun 2025 ekonomi Timor Leste harus sudah mampu melepaskan diri dari ekonomi migas.
Prof Stephanie Fahey dari Institut Riset Asia-Pasifik di Universitas Sydney dalam salah satu kertas kerjanya tentang Timor Leste, meski tidak menolak intensifikasi ekonomi agraris yang disebutnya biasanya penuh dengan subsisdi terselubung, begitu pula ekonomi ekspor semacam industri di Taiwan yang bisa berdampak pada lingkungan, tetap lebih cenderung menawarkan apa yang disebutnya rentier economy atau ekonomi jasa bagi Timor Leste.
Dengan panjang lebar ia menguraikan potensi ekonomi jasa bagi Timor Leste, mulai dari yang konvensional seperti turisme, kasino, pangkalan militer, bendera kapal antarbenua, fasilitas transito, persinggahan yacht, pendidikan tinggi yang berkualitas dan lain-lain, sampai ke yang spesifik seperti fasilitas bebas pajak untuk perbankan dan lembaga keuangan, telekomunikasi berbasis satelit, bunker pergudangan, fasilitas pengolahan dan daur ulang sampah, serta berbagai outsourcing jasa dari Australia, Singapura, dan Eropa.
Model ekonomi seperti ini pun, menurut ekonom lainnya, akan menghindarkan Timor Leste dari penyakit otoriter rezim minyak bumi yang hadir di hampir semua negara yang eknominya didominasi penerimaan migas. Hanya, model ekonomi sebagaimana yang diimpikan Stephanie bagi Timor Leste itu, tentu membutuhkan infrastruktur yang prima, SDM yang unggul, hukum yang disiplin, dan pemerintahan yang sangat stabil. Tetapi jika Pemerintah Timor Leste secara sungguh-sungguh mendengar peringatan East Timor Study Group sejak dini, 20 tahun ekonomi migas adalah waktu yang sangat cukup untuk membangun infrastruktur ekonomi yang benar-benar kuat tersebut, dan mencetak SDM yang diperlukan untuk model rentier economy itu.
Dalam bidang SDM untuk model rentier economy pun, sebetulnya Timor Leste tidak separah yang diperkirakan. Sekarang ini terdapat sekitar 50.000 Timor diaspora yang tersebar di seluruh dunia, di Eropa, Amerika, Australia, dan Indonesia. Di Eropa, Amerika, dan Australia, sebagian besar dari mereka adalah profesional dari tingkat paling bawah sampai manajemen puncak.
Segelintir dari mereka ini sudah kembali ke Timor Leste. Tetapi sebagian besar dari mereka ini masih menunggu bagaimana perkembangan Timor Leste yang merdeka di bawah Presiden Xanana. Jika Timor Leste yang baru ini mampu tumbuh stabil, terutama tidak terseret pada rivalitas terselubung Xanana vs Marie Alkatiri yang seharusnya menjadi Dwitunggal, arus masuk keahlian dan modal dari Timor diaspora ini akan menjadi kekuatan ekonomi yang dahsyat bagi masa depan Timor Leste.
Apalagi jika pemerintahan yang stabil itu dapat memungkinkan penerimaan dari sekuritisasi migas (menerima pembayaran royalti migas lebih dulu dengan penerimaan yang didiskon) sehingga penerimaannya bisa dipercepat menjadi langsung mulai tahun 2002 ini dengan premium risk serendah mungkin, maka potret Timor Leste yang ekonominya ultra-modern ala Stephanie itu tentu kapan-kapan masih akan bisa dilihat oleh Rien Kuntari. (Valens Doy, wartawan)
Sumber: Laclolopalos
Timor Leste Ingin Jadi ASEAN
Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao akan mempercepat pendaftaran negaranya menjadi anggota kesebelas negara-negara Asia Tenggara atau ASEAN tahun depan. Sebelum ini, Timor Leste menginginkan pihaknya baru akan mendaftar pada 2012.
Hal itu disampaikan Juru Bicara Presiden Republik Indonesia Julian Aldrin Pasha kepada pers seusai mendampingi pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Xanana Gusmao di Nusa Dua, Bali, Rabu (8/12).
Pemerintah Republik Indonesia melalui Presiden Yudhoyono, yang tahun depan akan memimpin sebagai Ketua ASEAN, akan mendukung sepenuhnya keanggotaan ASEAN yang baru Timor Leste ini. Namun, semuanya itu masih akan dibahas terlebih dulu di antara negara-negara anggota ASEAN lainnya.
”Terkait peningkatan kerja sama ekonomi, sosial, dan lainnya, PM Timor Leste Xanana Gusmao menjanjikan akan mengirimkan para menteri kabinetnya untuk menemui mitra-mitranya untuk menindaklanjuti hasil pertemuan tersebut,” jelas Julian.
Seusai pertemuan PM Xanana Gusmao dengan Presiden Yudhoyono yang didampingi sejumlah menteri kabinet, di antaranya Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto, dan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, berlangsung pula pertemuan Sultan Brunei Sultan Hassanal Bolkiah dengan Presiden Yudhoyono untuk melakukan kunjungan kehormatan.
Sebelum sidang berlangsung Kamis ini, Presiden Yudhoyono dijadwalkan akan menggelar pertemuan bilateral dengan Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak untuk membahas perkembangan konflik di Semenanjung Korea. Indonesia berniat menjadi bagian dari solusi terciptanya stabilitas di Semenanjung Korea.
Pemerintah Republik Indonesia melalui Presiden Yudhoyono, yang tahun depan akan memimpin sebagai Ketua ASEAN, akan mendukung sepenuhnya keanggotaan ASEAN yang baru Timor Leste ini. Namun, semuanya itu masih akan dibahas terlebih dulu di antara negara-negara anggota ASEAN lainnya.
”Terkait peningkatan kerja sama ekonomi, sosial, dan lainnya, PM Timor Leste Xanana Gusmao menjanjikan akan mengirimkan para menteri kabinetnya untuk menemui mitra-mitranya untuk menindaklanjuti hasil pertemuan tersebut,” jelas Julian.
Seusai pertemuan PM Xanana Gusmao dengan Presiden Yudhoyono yang didampingi sejumlah menteri kabinet, di antaranya Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto, dan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, berlangsung pula pertemuan Sultan Brunei Sultan Hassanal Bolkiah dengan Presiden Yudhoyono untuk melakukan kunjungan kehormatan.
Sebelum sidang berlangsung Kamis ini, Presiden Yudhoyono dijadwalkan akan menggelar pertemuan bilateral dengan Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak untuk membahas perkembangan konflik di Semenanjung Korea. Indonesia berniat menjadi bagian dari solusi terciptanya stabilitas di Semenanjung Korea.
Xanana Belajar Ke Indonesia
Memiliki potensi kekayaan minyak dan gas tak membuat Pemerintah Timor Leste berpangku tangan. Apalagi, persoalan batas wilayah Celah Timor, yang mengandung minyak dan gas itu, jadi perdebatan antara Timor Leste dan Australia. Karena itu, setelah delapan tahun memproklamasikan diri sebagai negara berdaulat, Timor Leste masih menjadi salah satu negara termiskin.
Atas dasar itu, Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao memilih belajar tiga hal mendasar dari Indonesia, khususnya Jawa Timur, yaitu soal pertanian, peternakan, dan pertahanan.
Akhir pekan lalu, Xanana Gusmao bersama tiga menteri muda bidang peternakan, pertanian, dan pertahanan serta rombongan tiba di Surabaya. Tiga menteri muda yang mendampingi mantan pejuang kemerdekaan Timor Leste ini adalah Menteri Muda Bidang Pertanian Marcos Dacruz, Menteri Muda Bidang Peternakan Valentino Varela, dan Menteri Muda Bidang Pertahanan Julio Thomas.
Di Surabaya, Xanana mengungkapkan, industri yang akan dikembangkan Timor Leste ke depan adalah minyak dan gas. Namun, eks provinsi ke-27 Indonesia ini memiliki persoalan mendesak, yaitu keterbatasan pangan. ”Untuk makan saja kami masih kesulitan. Setiap tahun kami harus membeli beras dari luar negeri. Karena itu, kami harus fokus pada pengembangan pertanian,” kata Xanana.
Kurangnya infrastruktur irigasi mengakibatkan negara ini hanya mampu memanen padi satu kali setahun. Sekitar 70 persen wilayah di Timor Leste berupa pegunungan. Praktis, kebutuhan pangan hanya mengandalkan hasil panen lahan tadah hujan. ”Kami ke Jatim untuk melihat bendungan-bendungan yang bisa mencukupi kebutuhan irigasi, air bersih, listrik, hingga industri. Ini yang kami cari untuk dikembangkan,” ucapnya.
Ditemani Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf, Jumat (10/12), Xanana meninjau Waduk Sutami di Desa Karangkates, Kabupaten Malang, serta Bendungan Wlingi di Desa Jegu, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar. Sebelumnya, Xanana mengunjungi Koperasi Peternakan Sapi Perah Setia Kawan di Desa Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan.
Ketersediaan nutrisi dan gizi bagi anak-anak di Timor Leste juga menjadi kebutuhan mendesak. Saat ini Pemerintah Timor Leste memberikan subsidi bagi setiap siswa taman kanak- kanak hingga SMA untuk satu kali makan per hari. Namun, subsidi itu belum cukup.
”Jika kita bisa mengembangkan sapi perah, anak-anak dapat minum susu. Kami berencana mengimpor sapi perah dari Jatim dan mendatangkan ahli peternakan dari Jatim,” lanjutnya.
Xanana juga mengunjungi pabrik kapal PT PAL Indonesia (Persero). Sekretaris I Kedutaan Besar Timor Leste untuk Indonesia Crisogno de Araujo mengatakan, kunjungan ini sangat penting bagi pengembangan armada kapal penumpang dan perang Timor Leste.
”Satu kapal penumpang kami adalah buatan PT PAL Indonesia. Dua kapal perang kami juga selalu menjalani dok di PT PAL Indonesia. Setelah kunjungan ini, kerangka kerja sama antara Pemerintah Timor Leste dan Pemprov Jatim akan dirumuskan,” kata Crisogno.
Ketergantungan ekonomi Pemerintah Timor Leste dengan Jatim relatif besar. Sekitar 70 persen hingga 80 persen transaksi perdagangan luar negeri Timor Leste dilakukan dengan Indonesia.
Berdebat dengan Australia
Setelah persoalan kebutuhan mendasar masyarakat Timor Leste terpenuhi, Xanana berharap masyarakat Lorosae bisa menikmati kekayaan alam minyak dan gas di Celah Timor, yang saat ini masih diperdebatkan tentang batas-batasnya dengan Australia. ”Produksi minyak dan gas selama 10 tahun ini sudah hampir mencapai 7 miliar dollar AS. Diperkirakan hingga tahun 2030 nilai eksplorasi minyak dan gas bisa mencapai 24 miliar dollar AS. Itu baru eksplorasi di Bayu Unda,” katanya.
Menurut Xanana, saat ini ada lima perusahaan eksplorasi minyak dan gas dari India, Italia, dan Malaysia. Ia berharap, masa depan Timor Leste membaik dengan kekayaan alam itu.
Ia menegaskan, ke depan, industri yang akan dikembangkan Timor Leste adalah minyak dan gas. Namun, untuk kemakmuran masyarakat saat ini, Pemerintah Timor Leste tetap fokus pada pertanian. Karena itu, negara ini ingin belajar dari bekas ”induk semangnya”, Indonesia.
Akhir pekan lalu, Xanana Gusmao bersama tiga menteri muda bidang peternakan, pertanian, dan pertahanan serta rombongan tiba di Surabaya. Tiga menteri muda yang mendampingi mantan pejuang kemerdekaan Timor Leste ini adalah Menteri Muda Bidang Pertanian Marcos Dacruz, Menteri Muda Bidang Peternakan Valentino Varela, dan Menteri Muda Bidang Pertahanan Julio Thomas.
Di Surabaya, Xanana mengungkapkan, industri yang akan dikembangkan Timor Leste ke depan adalah minyak dan gas. Namun, eks provinsi ke-27 Indonesia ini memiliki persoalan mendesak, yaitu keterbatasan pangan. ”Untuk makan saja kami masih kesulitan. Setiap tahun kami harus membeli beras dari luar negeri. Karena itu, kami harus fokus pada pengembangan pertanian,” kata Xanana.
Kurangnya infrastruktur irigasi mengakibatkan negara ini hanya mampu memanen padi satu kali setahun. Sekitar 70 persen wilayah di Timor Leste berupa pegunungan. Praktis, kebutuhan pangan hanya mengandalkan hasil panen lahan tadah hujan. ”Kami ke Jatim untuk melihat bendungan-bendungan yang bisa mencukupi kebutuhan irigasi, air bersih, listrik, hingga industri. Ini yang kami cari untuk dikembangkan,” ucapnya.
Ditemani Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf, Jumat (10/12), Xanana meninjau Waduk Sutami di Desa Karangkates, Kabupaten Malang, serta Bendungan Wlingi di Desa Jegu, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar. Sebelumnya, Xanana mengunjungi Koperasi Peternakan Sapi Perah Setia Kawan di Desa Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan.
Ketersediaan nutrisi dan gizi bagi anak-anak di Timor Leste juga menjadi kebutuhan mendesak. Saat ini Pemerintah Timor Leste memberikan subsidi bagi setiap siswa taman kanak- kanak hingga SMA untuk satu kali makan per hari. Namun, subsidi itu belum cukup.
”Jika kita bisa mengembangkan sapi perah, anak-anak dapat minum susu. Kami berencana mengimpor sapi perah dari Jatim dan mendatangkan ahli peternakan dari Jatim,” lanjutnya.
Xanana juga mengunjungi pabrik kapal PT PAL Indonesia (Persero). Sekretaris I Kedutaan Besar Timor Leste untuk Indonesia Crisogno de Araujo mengatakan, kunjungan ini sangat penting bagi pengembangan armada kapal penumpang dan perang Timor Leste.
”Satu kapal penumpang kami adalah buatan PT PAL Indonesia. Dua kapal perang kami juga selalu menjalani dok di PT PAL Indonesia. Setelah kunjungan ini, kerangka kerja sama antara Pemerintah Timor Leste dan Pemprov Jatim akan dirumuskan,” kata Crisogno.
Ketergantungan ekonomi Pemerintah Timor Leste dengan Jatim relatif besar. Sekitar 70 persen hingga 80 persen transaksi perdagangan luar negeri Timor Leste dilakukan dengan Indonesia.
Berdebat dengan Australia
Setelah persoalan kebutuhan mendasar masyarakat Timor Leste terpenuhi, Xanana berharap masyarakat Lorosae bisa menikmati kekayaan alam minyak dan gas di Celah Timor, yang saat ini masih diperdebatkan tentang batas-batasnya dengan Australia. ”Produksi minyak dan gas selama 10 tahun ini sudah hampir mencapai 7 miliar dollar AS. Diperkirakan hingga tahun 2030 nilai eksplorasi minyak dan gas bisa mencapai 24 miliar dollar AS. Itu baru eksplorasi di Bayu Unda,” katanya.
Menurut Xanana, saat ini ada lima perusahaan eksplorasi minyak dan gas dari India, Italia, dan Malaysia. Ia berharap, masa depan Timor Leste membaik dengan kekayaan alam itu.
Ia menegaskan, ke depan, industri yang akan dikembangkan Timor Leste adalah minyak dan gas. Namun, untuk kemakmuran masyarakat saat ini, Pemerintah Timor Leste tetap fokus pada pertanian. Karena itu, negara ini ingin belajar dari bekas ”induk semangnya”, Indonesia.
Monday, January 17, 2011
MS PREPARA U$ 150 Mil Kombate HIV/AIDS iha TL
Ministerio da Saude Semanal
Dili, Saude-Semanal. Tinan 2011 ministerio da saude sei tau orsamentu montante U$ 150 dolares Norte amerikanu ba komisaun Nasional luta kombate HIV/AIDS, tanba tinan-tinan numeru nee sempre aumenta ba bei-beik. Ministru da saude Nelson Martins koalia ida nee ba Jornalista sira, segunda 17/01/2011 iha parlamentu Nasional.
Nia afirma, ministerio da saude iha tinan nee sei prepara orsamentu ho montante U$ 150 nebe tama rubrika transferensia publika hodi fob a komisaun Nasional luta hasoru moras HIV/AIDS hodi halao sira nia servisu. Nebe mak agora dadaun prepara hela finalize baze legal estatutu.
Tuir Ministru Martins katak, komisaun nasional luta kontra hasoru moras HIV/AIDS, komesa prepara nomeiasaun mebru foun hodi fo treinamentu ba membrus sira no halo estasaun servisu iha rejional hodi fo konsellu ba instituisaun estadu inklui Ministerio da Saude RDTL, hodi halo supervizaun implementa saun planu estrateziku HIV/AIDS 2010-2015 nian, no prepara apoiu implementasaun orsamentu nebe mak hetan husi global funds ba programa HIV/AIDS.
Prezidente komisaun Nasional luta kontra moras HIV/AIDS actual Ministru da Saude esplika katak, tuir data estatistika ministerio da saude nian nebe hahu tinan 2003 to’o 2010 moras HIV/AIDS iha timor leste atinji ona numeru total kuaze 200 pesoas no nain 22 mate.
Maske timor leste numeru sae, maibe ministru da saude nelson dehan timor leste sei tama nasaun nebe ho prevalensia HIV/AIDS ho pursentu 0,2 %.
Nia haklaken ministerio da saude ho komisaun Nasional luta kontra moras HIV esforsu nafatin ho parseiru sira ONG sira nebe mak dedika sira nia aan tomak ba moras HIV/SIDA inklui mos media timor leste hodi habelar informasaun ba komunidade hodi nunee sira bele iha konhesemetu klean ba moras nebe refere (HIV).
aleinde nee Antonio dos Santos suku Motael lamenta ho programa SISCa nebe oras nee dadaun lao la duun diak iha suku nebe refere, “dehan katak programa SISCa halao fulan ida dala ida maibe agora dadaun iha ami nia fatin paradu”. Hatan ba kestaun hirak nee Ministru Nelson Afirma, atu rejolve problema SISCa, rekursus Umanus mak la too hodi fo assistensia nebe klean ba komunidade maibe ho partisipasaun Komunidade tomak fiar katak programa SISCa sei lao Normal.
Dr. Nelson Haktuir katak, SISCa mos iha ninia orsamentu rasik maibe susar atu mobilize, “SISCa sei lao diak wainhira komunidade partisipa makas no lider komunitariu sira mos iha partisipasaun Masimu ba programa nee”.tenik Ministru MS.
SISCa mos tinan-tinan aloka orsamentu tuir alokasaun ba kada sentru da saude ho orsamentu montante U$ 25.00 nunee ministru Martins apela ba komunidade katak SISCa nee presija ema hotu nia kontribuisun hare ba realidade katak rekursus kurang teb-tebes.MS01 feat JNDiario
Subscribe to:
Posts (Atom)